Kenapa Saya Mau Ngeblog (Lagi) Pada Tahun 2025
Jadi ternyata, saya pun tahu kalau domain yang expired tidak bisa dikembalikan lagi.
Hm, sebuah kalimat pembuka yang kurang SEO friendly? Masa bodohlah. Pada postingan ini, mari kita menguji algoritma google. Tapi saya juga tidak peduli apakah artikel ini bisa masuk ke halaman pertama mesin pencari atau tidak. Biarkan saya membuatnya sebagaimana blog digunakan pada masa-masa awal: kita hanya curhat dengan cara kita sendiri, tak peduli apakah akan masuk halaman utama mesin pencari.
Intermezzo yang kepanjangan. Saya akan mengulangi masalah sekaligus pengetahuan yang saya dapatkan hari ini:
Saya pun tahu kalau domain yang expired tidak bisa dikembalikan lagi.
Entahlah. Katanya sih begitu. Domain yang sudah expired, alias tidak diperpanjang, dan sudah lewat masa tenggang itu sudah hangus.
Apakah sudah saatnya benar-benar mengucapkan selamat tinggal kepada www.taruihbaraja.com?
Domain tersebut memang sudah tidak saya perpanjang lagi setelah kurang lebih setahun. Apa lebih ya? Saya bahkan sudah lupa. Alasannya karena menurut saya niche-nya terlalu luas alias gado-gado, dan tidak jelas branding-nya apa, tidak ada yang khas, begitu.
Nah, akhir-akhir ini saya baru kepikiran untuk mengembalikan lagi website itu ke permukaan, dan saya punya ide soal branding website tersebut. Saya pikir, urusan saya beres setelah membeli domain itu lagi, toh enggak ada yang makai juga. Namun ternyata enggak bisa.
Provider jasa sewa domain saya tidak bisa memulihkan alamat domain saya. Saya coba cek di provider jasa sewa domain lain, pun tidak menyediakan alamat itu karena memang sudah saya pakai.
Saya kulik-kulik caranya di google, berharap menemukan cara lain, misal mengontak siapa gitu? Namun mungkin saya menyerah terlalu dini, atau mungkin memang tidak ada jalan lain lagi? HELP.
Apakah seharusnya saya move on saja dan tidak perlu menyesalinya berlarut-larut?
Memang itulah yang pada akhirnya saya lakukan, dan saya tidak butuh waktu lama untuk memutuskannya. Saya membuat blog ini.
Sebenarnya, ada sedikit penyesalan terkait blog yang hangus ini.
1. Blog itu sudah punya Adsense yang bisa saya pakai untuk passive income (hasilnya masih rendah, karena tidak saya tayangkan dengan masif, tapi lumayan juga sih).
2. Saya mesti merelakan artikel yang sudah punya pengunjung organik setiap hari. Tentu saja.
3. Meskipun tampilan aka templatenya masih terbilang simpel atau kasarnya jelek (wkwk, saya jarang menghina tapi begitulah, saya sendiri masih kurang sreg), namun sudah saya otak-atik dengan sepenuh hati, sudah responsif banget, dan tentunya sudah terbukti SEO friendly.
4. Bye bye DA. Blog itu terakhir saya tinggalnya dengan angka DA yang tidak terlalu tinggi sih. Namun untuk mendapatkan DA segitu tuh pakai usaha juga.
5. Dadah semua usaha daftarin URL ke tools analitik, yang mungkin berpengaruh juga terhadap SEO dan DA.
Saya pun meminta maaf kepada para sponshorship yang sudah menambah uang jajan saya di masa lalu. Sekarang semua backlink itu hilang.
Gapapalah. Semua bisa kita mulai lagi.
Lantas, kenapa saya mau ngeblog lagi pada tahun 2025?
Ya, saya pun merasa platform ini sudah ketinggalan. Saat ini orang-orang banyak beralih ke sosial media, dan konten-konten yang berbasis visual (gambar maupun video), atau juga audio (podcast). Buktinya, lomba-lomba blog jadi jarang ditemui. Apa algoritma sayalah yang telah jauh beralih?
Meski begitu, terlepas dari wadah menampung curhatan (tong sampah emosi), saya merasa blog ini dapat saya jadikan sebagai portofolio tulisan saya.
Hal lain adalah, karena ternyata backlink-backlink itu memang masih laku kok. Selama blog saya expired, saya masih saja menerima tawaran content placement, dan telah banyak yang saya lewatkan.
Hari ini, saya membuka email dan menemukan sebuah tawaran content placement yang entah kenapa menarik hati saya, membuat saya semakin ingin mengaktifkan blog saya lagi.
Hingga singkat cerita, jadilah blog dan tulisan ini.
Semoga blog ini bisa memberikan manfaat ya.
Comments
Post a Comment